Ini adalah sebuah obrolan dengan Mimim di suatu minggu siang yang cerah, ketika ia berpakaian pinky-pinky fever ria sambil nebeng online. Kami baru saja membahas skripsi Mimim, tentang orientasi masa depan anak yatim piatu di sebuah panti asuhan di Lembang. Aku sedang terserang demam misterius, dan setelah membahas skripsi Mimim dan menginstallkannya Yahoo! Messenger (emang katro!), aku menggunakan tenaga yang tersisa untuk menggoreng french fries. Setelah itu aku terkapar di atas sofa pendek.
Mimim bertanya padaku, "Biasanya kamu sehari-hari ngapain aja, Jal?"
"Me?" Aku mulai mengingat-ingat lagi keseharianku sebelum demam itu datang. Biasanya, tentu saja, yang rutin: olahraga. Lalu tidur siang. Atau bekerja berdasarkan agenda harian. Biasanya memang padat, tapi gara-gara demam misterius ini, aku malas memenuhi agenda-agendaku sendiri. Jangankan bekerja, tidur saja susah. Pening. Gara-gara demam aneh ini revisi skripsiku telantar.
"Kamu sendiri Mim? Biasanya?"
"Makan."
Baiklah.
"Tidur."
Baiklah.
"Ngerumpi."
Baiklah. Benar-benar hidup yang kaya makna. "Emangnya kamu nggak ada sesuatu yang ingin dicapai, Mim?"
Mimim melongo. "Nggak tahu."
"Lha? Memangnya OMD*-mu gimana?" *Orientasi Masa Depan
"Masih ngambang Jal."
"Wow..." Aku bangkit, seolah-olah lupa kalau aku sedang sangat lemas. Seorang mahasiswi yang mengerjakan skripsi tentang OMD tidak punya OMD? "Terus, kalo menurut Nurmi*, harusnya gimana?" *Jari-Erik Nurmi adalah pemilik teori OMD yang digunakan oleh Mimim dalam skripsinya
Dan meluncurlah cerita Mimim bahwa OMD-nya sangat tergantung pada seseorang yang bahkan belum ada dalam hidupnya (duh gwa pengen cerita detail tapi ntar ada yang ngamuk). Kupikir, bukankah itu mengerikan? Menyerahkan masa depan pada suatu kekuatan eksternal yang tidak bisa kita kendalikan? Ya, Mimim juga menyadari itu. Tapi bahkan ia sendiri belum tahu keinginan besarnya.
"Tapi bukannya kamu paham banget teorinya Nurmi, ya, sampe bisa nganalisis OMD-nya anak-anak panti asuhan secara kualitatif?" Aku bertanya.
Mimim diam. "I... ya."
"Tapi dengan pemahaman teori OMD sedalam itu, kemu tetep ga bisa nolong diri kamu sendiri?"
"Iya..."
"Wow..." Aku kembali berbaring di atas sofa pendek. Kupandangi langit-langit ruangan.
Bukankah aku baru saja melihat hal yang menakjubkan? Konon, untuk bisa menghasilkan grand theory seperti teori OMD-nya Jari-Erik Nurmi, seseorang harus mendapatkan gelar S3 atau di atasnya dan melakukan penelitian gila-gilaan. Hasilnya? Sebuah teori, yang ternyata tidak aplikatif. Sesuatu yang dipandang sebagai karya, sebuah penjelasan dengan riset yang tak sederhana, ternyata tidak memiliki kontribusi yang besar dalam kehidupan. Dengan teorinya, Nurmi bisa menjelaskan proses pembentukan OMD pada remaja khususnya. Temanku Mimim bisa menggunakan teori yang sama untuk menjelaskan struktur dan dinamika OMD pada anak-anak panti asuhan di Lembang. Tapi solusi apa yang bisa diberikan oleh sebuah teori?
Aku tidak bisa tidak ingat klaim psikologi eksistensial, bahwa penjelasan dan pemahaman berada pada tingkatan yang berbeda. Psikologi umumnya selalu berkutat pada penjelasan, oleh karenanya lahirlah teori-teori, yang menjelaskan struktur, dinamika, dan kepribadian. Tapi, setelah menjelaskan, adakah teori-teori itu memberikan solusi konkrit atas suatu permasalahan? Manusia bukanlah benda mati yang bisa seenaknya dijelaskan begini dan begitu. Manusia juga punya kehendak dan manusia perlu dipahami. Dan untuk mencapai pemahaman, yang dibutuhkan bukanlah teori: melainkan pengalaman.
Pertanyaanku beranjak: jadi apa keunggulan psikolog, atau sarjana psikologi? Kemampuan atau kompetensi apa yang mereka miliki setelah bertahun-tahun di-drill dengan bertumpuk-tumpuk teori mengenai manusia? Para sarjana ekonomi dididik dengan bertumpuk-tumpuk teori tentang keuangan, tetapi ekonom-ekonom yang unggul adalah mereka yang berpengalaman dengan realitas konkrit mengenai keuangan. Para sarjana geologi juga dididik dengan berbagai macam teori mengenai geologi, tetapi tetap saja mereka yang lebih unggul adalah mereka yang berpengalaman di lapangan. Demikian juga psikolog atau sarjana psikologi: mereka mungkin dididik dengan ratusan teori mengenai manusia, tetapi mereka yang unggul, tetap saja, adalah mereka yang berpengalaman dengan manusia lain. Celakanya, semua orang berpengalaman dengan orang lain.
Para ekonom memiliki pemahaman ekonomi yang unggul karena tidak semua orang punya pengalaman dengan situasi-situasi ekonomi konkrit. Para geolog memiliki keunggulan pemahaman karena tidak semua orang punya pengalaman konkrit dengan situasi-situasi geologis di lapangan. Tapi psikolog, atau sarjana psikologi, apakah mereka memiliki keunggulan dalam memahami manusia? kenyataannya, SEMUA ORANG punya pengalaman berinteraksi dengan orang lain sepanjang hidupnya. SEMUA ORANG memiliki kesempatan yang sama untuk memahami manusia.
Jadi, apa sesungguhnya keunggulan psikolog atau sarjana psikologi?
Aku merinding sendiri memikirkan jawabannya.
p.s. call me skeptics. Skeptics. SKEPTICS!
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Psikologi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 Maret 2008
Tentang Teori Orientasi Masa Depan
Label:
Ilmu Psikologi
Langganan:
Postingan (Atom)
