Hari ini aku jadi juga datang ke pameran itu. Bahkan tanpamu, bahkan tanpa pria yang beruntung itu. Langit mencurahkan rintik-rintik air saat aku meninggalkan rumah. Kami hanya bertiga. Aku jadi pelengkap. Mereka kerap berbicara banyak dan aku berdiri di luar lingkaran. Pengabaian. Entah kenapa tema utamaku itu bukan lagi masalah. Apa pun yang mereka bicarakan, dan mereka lakukan, berdua; aku tak bisa terluka. Semuanya terasa hangat dan nyaman, bahkan di bawah rintik-rintik dari langit kelabu. Kami berkeliling menembus keramaian, menyisir tumpukan-tumpukan buku dengan jeli. Menertawakan poster bergambar lucu. Membicarakan judul-judul buku yang menggelitik. Saling kehilangan dan saling mencari. Tak ada satu hal pun yang bisa menjadi salah. Setiap detik yang kulalui dalam kebersamaan itu, adalah anugerah...
Semua itu terasa menyenangkan... tanpamu.
Aku tertegun.
Bahkan jika pria yang beruntung itu tetap hadir bersama kami sore tadi, aku akan tetap merasa nyaman dan senang. Aku mungkin akan memanggilnya dengan nama yang lucu. Atau menunjukkan padanya buku-buku yang bagus. Mungkin senang juga ada pria lain bersama kami. Menambah jumlah orang. Dan setiap detik yang kami lalui bersama akan tetap menjadi kenangan yang kecil dan sepele, tapi indah--one of the so many little wonders in my lifetime.
Namun, ketika kubayangkan kehadiranmu, detik-detik itu mulai berubah. Semua yang mengalir dengan riang mendadak bergerak pelan dan menyakitkan. Seperti longsoran salju. Kehadiranmu seperti lubang hitam yang menghisap semuanya--menghisap nyamannya kebersamaan dan hanya menyisakan ketakutan. Membayangkanmu berada di tengah kami saja membuatku enggan. Aku merasa sakit. Aku tak sanggup jika harus menyaksikan kau akrab dengannya--dan meninggalkanku di luar lingkaran. Sebuah pengabaian yang sanggup mengubah butir-butir gula dalam setiap detik berubah menjadi jarum-jarum yang menusuk-nusuk--kala kau hadir dalam ruang dan waktu yang sama denganku.
Inikah cinta?
Aku tersenyum getir.
Bukan, inilah kebodohan.
Cinta adalah ketika aku mendampingimu menapaki jalanan malam dan membuatmu tersenyum oleh pemandangan. Cinta adalah ketika aku menjadi besar--begitu besar untuk menampung semua curahanmu, dan menjadi semakin kuat untuk menularkan semangat padamu. Cinta adalah ketika aku mempercayakan semua lika-liku kehidupanku padamu, dan bahagia melihatmu tersenyum membaca semua itu. Cinta adalah ketika aku melihatmu terpejam dalam damai, dan aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sampingmu, tetap ada meski kau tak tahu. Cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah kehidupan.
Tapi lihat aku sekarang--aku merana, aku menderita! Aku sakit!
Pernah aku begitu mencintaimu. Adakalanya pula, di sela-sela waktu tertentu, aku begitu mencintaimu, hingga aku begitu kuat, aku tak bisa tersakiti, bahkan oleh kematian. Namun kerap pula cahayanya meredup ketika bayangan hitam menghantui--bayangan bahwa aku tidak dicintai. Bayangan bahwa pria lainlah yang kau cintai, sementara aku hanyalah sosok yang tak pernah ada dalam hatimu. Aku selalu berdiri di luar lingkaran hatimu. Dan rasioku mulai bertanya: mengapa semua yang kuberi tidak berbalas? Mengapa semua yang kuberikan, tak bisa membuatnya melihatku? Mengapa aku begitu tidak berarti, mengapa aku begitu tidak bernilai? Dan masa-masaku denganmu pun berubah menjadi ketakutan: akankah aku diabaikan lagi? Haruskah aku melihatmu menyanding pria lain--dan aku tetap berada di lingkaran luar, hanya bisa menyaksikan dengan cemburu yang menusuk-nusuk? Haruskah aku melihatmu tidak melihatku? Bayangan-bayangan itu menaungiku, menjadikanku enggan dan ketakutan. Aku takut kau abaikan.
Lihat, lihat aku sekarang. Aku bukan seorang pencinta, yang menjadi utuh dengan memberi dan menjadi.
Aku seorang pedagang, yang menghitung untung dan rugi, dan berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Malam itu, setelah membantu temanku yang lain dengan proyek buku-buku, aku menapaki jalanan malam seorang diri. Aku bertanya dalam hati. Ke manakah jalan untuk kembali menjadi seorang pencinta? Di manakah aku harus berbelok untuk mencapai ketulusan itu? Aku seorang pengembara yang tersesat, dan tengah mencari jalan pulang.
Puteriku, aku ingin mencintaimu. Kau pernah menjadi Surgaku, dan kadang kau masih demikian bagiku. Takkan kubiarkan kau menjadi Neraka. Kan kutemukan jalan itu--jalan untuk menyingkapkan bayangan-bayangan hitam, untuk seterusnya kembali pada cahaya. Cahaya yang tiada berbatas, cahaya yang takkan pernah habis kuberi dan kucurahkan padamu, dan pada dunia. Cahaya yang kunamakan cinta.
Aku ingin mencintaimu dengan utuh. Seperti aku mencintai kehidupan.
Bandung, 1 Februari 2008,
- Rizal
Jumat, 01 Februari 2008
Seperti Aku Mencintai Kehidupan
Selasa, 22 Januari 2008
The Strong and The Weak
The strong sees power and potence;
the weak views the world as a threat.
The strong inspires joy and friendliness;
the weak drowns in desperation and endless questions.
The strong is bigger than the world and the heaven as one;
the weak has no empty room left for gratitude.
The strong is one to be genuine;
and the weak pretends a lot and rots inside.
The strong stands proudly and makes himself everytime, with bravery;
the weak forever drifts aimlessly and falls prey into the unfair destiny.
And so the strong sparks love, passion, and the spirit of life, illuminating every corner of the universe with light;
while the weak, he can never have enough even for himself... even if he owns the world!
Be strong!
Senin, 21 Januari 2008
Keterombang-ambingan: Anugerah atau Kutukan?
Harus saya akui, posting ini saya buat sebagai refleksi saya terhadap comment sahabat saya Djati (Teki Otaku) pada posting "Baik dan Buruk, Benar dan Salah"--bukan sebagai perlawanan, tapi karena tulisannya memberikan insight bagi saya. Setidaknya, baris ini yang menarik bagi saya:
Entah apa pendapat Anda... tapi menurut saya, pendapat Djati tersebut sangat menggambarkan esensi kondisi manusia. Manusia hidup di tempat yang gelap dan tidak tahu arah yang ditujunya. Ia senantiasa terombang-ambing dalam ketidakpastian. Coba kita ingat bersama, tidakkan kita pernah mengalami keterombang-ambingan itu? Kita memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sulit sekali dijawab: siapakah kita? Apa makna keberadaan kita di dunia? Apa tujuan hidup kita? Dan apakah yang akan terjadi nanti, saat kita mati? Saat kita berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan demikian, tidakkah kita seperti manusia yang digambarkan oleh Djati itu--manusia yang hidup di tempat gelap, terombang-ambing, tanpa arah?
Mungkin Anda tidak setuju dengan pendapat saya: ah, saya tahu kok jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu! Hehe, saya tidak menyalahkan Anda. Dalam perspektif tertentu, saya sependapat dengan Djati bahwa manusia tidak akan bisa bertahan tanpa mengetahui arah yang sedang mereka jalani. Karena itulah, menurut saya, dalam keterombang-ambingan, kita mulai mencari pegangan... dan lihat! Kita mulai menemukan pegangan, tapi berbeda-beda! Ada yang kemudian mengadopsi nilai-nilai agama dan menjadikannya pedoman hidup. Ada yang membiarkan dirinya tenggelam dalam konformitas, selalu ikut arah orang lain di sekitarnya. Ada yang melarikan diri pada kesibukan dan ia pun kehilangan kesadaran akan keterombang-ambingannya. Yang lainnya--seperti saya--terus mencari dan menetapkan arah untuk dirinya sendiri. Ternyata, meskipun menyulitkan, keterombang-ambingan justru membuat manusia bisa menjadi apa saja! Dalam keterombang-ambingan manusia akhirnya memutuskan arahnya sendiri, sesuai dengan pilihannya. Berbeda dengan tumbuhan, misalnya, yang arahnya sudah dituliskan oleh DNA-nya: ia akan tumbuh, menjadi tua, dan mati, sesederhana itu. Tapi tidak manusia. Justru keterombang-ambinganlah yang membuat manusia berjaya.
Jadi, mana yang benar? Apakah keterombang-ambingan akan membuat manusia tidak bertahan--seperti yang dikatakan Djati--atau justru akan membuat manusia berjaya--seperti yang saya katakan?
Sebagaimana semangat saya dalam blog ini, saya tidak berminat menyatakan mana yang benar dan mana yang salah. Adalah pilihan kita masing-masing untuk mempercayai salah satunya. Mana yang mau Anda percaya: keterombang-ambingan sebagai anugerah? Atau keterombang-ambingan sebagai kutukan?
Lihat! Bahkan kita bisa terombang-ambing di antara kedua pernyataan itu, dan pada akhirnya kita harus mengakhirinya dengan membuat pilihan--paling tidak untuk diri kita sendiri! Kalaupun Anda bilang masa bodoh dan tidak mau memilih... bukankah anda baru saja memilih untuk masa bodoh dan tidak memilih???
Saya sendiri lebih suka berpikir keterombang-ambingan sebagai keduanya sekaligus. Di satu sisi, ia adalah kutukan yang menakutkan tapi memberikan kita ruang gerak yang begitu bebas. Keterombang-ambingan menjadi anugerah--hanya apabila kemudian kita memilih, paling tidak untuk diri kita sendiri :)
Jadi, apa pilihan Anda?
Sabtu, 19 Januari 2008
Malam Minggu dan Halaman Waktu
"... berarti malam minggu sekarang kamu nggak ke mana-mana dong?"
Pertanyaan itu dilontarkan oleh ayahku. Aku angkat bahu. Ah, kapan juga aku malam mingguan? Sejak putus dari Trisa sekitar 2,5 tahun yang lalu, aku tak pernah lagi malam mingguan. OK, mungkin itu berlebihan, karena kadang-kadang aku melewatkan malam minggu bersama teman-teman, atau bersama someone special yang belum bisa juga kuraih (halah).
Aku melewatkan malam minggu ini bersama keluargaku. Ibuku sedang wisata ke Jogja, jadilah anggota keluarga yang lain terlantar asupan gizinya dan harus mencari makan di luar. Sekalian merayakan hari ulang tahun adikku Nadia, kami makan mewah di Raa Cha di Ciwalk, disambung dengan dua scoop eskrim lezat di Pisa. Tadinya, sepulang dari Ciwalk, aku berniat mampir ke Mimim di Bangbayang untuk mengembalikan MP4 player-nya yang kupinjam, tapi, eh, dasar bodoh: Mimim bilang padaku ia masih di konser angklung. Iya, lah, ya... dasar pikun! Aku mengatakan pada ayahku kalau aku tidak jadi turun di Bangbayang. Dan meluncurlah pertanyaan sakti tadi dari bibir ayahku.
Aku pikir pertanyaan ayahku menggelikan juga. Kenapa juga mampir di Bangbayang harus dianggap malam mingguan. OK, ayahku memang bisa menjadi sangat norak dalam urusan semacam itu. Dan memang di matanya akulah anak yang paling ganjen dan paling sering gonta-ganti pasangan. Tapi percayalah, Dad... tidak seperti itu kok! Mungkin terkesan gonta-ganti pasangan karena memang aku melewatkan hari-hariku dengan orang yang berbeda-beda, and most of them are girls... tapi kalau untuk urusan hati, memang hanya ada satu nama untuk satu waktu. Nama yang terakhir sudah bertahan lebih dari setahun. The Princess. Dan aku tak sesering itu menghabiskan malam minggu bersamanya. Nyaris tidak pernah, malah. Ia masih seperti bintang yang sangat jauh, nyaris tidak teraih...
Memikirkan malam minggu mengingatkanku akan sesuatu yang telah lama tidak aku miliki. Seseorang yang bisa selalu kuajak pergi. Ya... tidak ada lagi yang bisa kujemput pada Sabtu sore, lalu kuajak berkeliling dan makan di luar sebelum pulang di malam hari, kemudian pulang sambil tak henti-hentinya mengucap syukur. Sudah 2,5 tahun aku kehilangan hal semacam itu. Dan mengingatnya sekarang, entah kenapa, menimbulkan sepercik kekosongan, dan kesedihan, jauh di lubuk hati yang dalam. Ada sesuatu yang telah lama hilang, dan hingga kini belum terganti.
Tapi kenapa harus merasa sedih atau kosong ketika melewatkan malam minggu tanpa someone special?
Bagi semesta, waktu hanyalah siklus yang konstan. Setiap harinya pohon pinus, kupu-kupu, belalang, semut, cacing, kucing, pohon jambu, dan banyak lagi, hanya mengenal siang dan malam. Tumbuhan melakukan fotosistesis setiap matahari bersinar dan melakukan respirasi ketika malam tiba. Binatang-binatang mencari makan pada siang hari dan beristirahat pada malam hari, sementara binatang malam melakukan hal yang sebaliknya. Aktifitas atom malah lebih tidak mengenal pembagian waktu. Elektron mengelilingi inti atom tanpa mengenal waktu. Bagi mereka semua--tumbuhan, binatang, bahkan atom--waktu hanyalah siklus keabadian. Tak ada kenangan, tak ada harapan tentang masa depan. Mereka hidup dalam kekinian.
Jadi, kenapa harus merasa sendirian saat melewatkan malam minggu tanpa seseorang yang sangat berarti?
Berbeda drai tumbuhan, binatang, atom, dan benda-benda lain di alam semesta, manusia membagi waktu menjadi kompartemen-kompartemen kecil, seperti membagi sawah luas menjadi petak-petak, atau membagi narasi yang panjang menjadi paragraf-paragraf dan halaman-halaman. Demikian pula dengan waktu: manusia membaginya menjadi milenium, abad, dasawarsa, windu, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, bahkan milidetik. Dengan kenangan dan pikiran akan masa depan, manusia perlu mengotak-ngotakkan waktu dan membagi aktifitas mereka secara rapi di dalamnya. Tidak seperti benda-benda lain yang menjadi ada apa adanya, manusia dapat mencapai banyak hal dengan membagi aktifitasnya dalam halaman-halaman waktu.
Namun ternyata mengotak-ngotakkan waktu memberikan konsekuensi tertentu pada manusia. Seiring dengan kesadaran akan adanya waktu yang telah lalu dan masa yang akan datang, kita tergerak untuk mengikatkan harapan-harapan tertentu pada fragmen-fragmen waktu. Waktu tidak lagi dipandang sebagai kontinuitas yang lancar dan berkesinambungan, tetapi sebagai fragmen-fragmen yang memiliki makna yang berbeda-beda, yang saling terhubung dalam rangkaian sebab-akibat. Akibatnya, Senin pagi dimaknakan sebagai waktu yang menyebalkan, malam minggu dipandang sebagai saat melewatkan waktu bersama pasangan, dan minggu pagi dipandang sebagai waktu yang enak untuk berleha-leha. Padahal, semesta sendiri tidak mengenal Senin, Sabtu, dan Minggu, dan banyak lagi fragmen waktu yang diciptakan oleh manusia; mereka hanya mengalami waktu dinamis yang terus mengalir, tanpa henti.
Jadi, sekali lagi, adakah alasan untuk merasa sedih?
Andaikata kita bisa mengotak-ngotakkan waktu untuk mengatur aktifitas tanpa harus mengikatkan harapan-harapan kita padanya... sehingga kita bisa berkembang dan tetap menikmati waktu, apa adanya...
Kamis, 17 Januari 2008
Baik dan Buruk, Benar dan Salah
Baris tersebut adalah bagian dari pesan yang masuk ke Inbox Friendster saya hari ini. Saya jadi bertanya-tanya, apakah yang dimaksud dengan kurang baik? Lalu yang bagaimana yang dianggap baik? Ketika saya mendapatkan pertanyaan tersebut, jawaban saya mungkin berbeda dari orang yang mengirimi saya pesan itu. Atau mungkin berbeda pula dari orangtua saya. Bahkan mungkin dari Anda. Apa yang baik, apa yang kurang baik, tampaknya begitu relatif dan individual. Jadi siapa yang punya hak istimewa mengatakan sesuatu baik atau kurang baik secara universal?
Kurang lebih 10 menit sebelumnya, sahabat saya Panji menelepon saya. Beliau tiba-tiba bertanya apakah saya berencana OL di YM malam ini. Ya, saya akan OL, seperti biasa. Kemudian beliau bercerita pada saya bahwa Rizky, sahabatnya, baru saja masuk angin dan dikerok habis-habisan sebelum pulang. Panji bilang dia sudah meminta Rizky agar beristirahat dan tidak perlu membuka YM, tapi mungkin saja Rizky membandel dengan tetap membuka YM dan bukannya beristirahat. Kalau Rizky OL, Panji minta saya untuk membuat Rizky beristirahat. Oh, well, bukan permintaan yang sulit dan muluk. Dan belakangan saya lihat Rizky memang tidak OL. Jadi ya tidak masalah.
Namun hal yang membuat saya lebih tertarik adalah perhatian Panji yang begitu besar pada Rizky. Perhatian yang begitu besar hingga Panji berharap Rizky melakukan sesuatu untuk kebaikannya sendiri, yakni beristirahat. Tapi ada satu hal yang mengganjal di sini; betulkah istirahat merupakan hal yang terbaik bagi Rizky sendiri? Kalau akhirnya dia memang memilih untuk OL dan bukannya beristirahat, apakah itu hal yang kurang baik atau hal yang buruk? Kalau hal itu memang bukan hal yang baik, tidakkah pantas kita bertanya, menurut siapa?
Siang tadi, saya menyaksikan Metro Realitas. Bahasan kali ini adalah ISLAM SEJATI yang diklaim sebagai aliran sesat. Namun siapakah yang mengatakan mereka aliran sesat? Sederhananya, mereka adalah orang yang mengaku beragama Islam yang benar. Namun apakah standar kebenaran di sini? Kitab Suci Al-Qur'an? Tapi bahkan aliran Islam Sejati pun mengklaim ajaran mereka berdasarkan Al-Qur'an. Jadi perbedaannya terletak pada interpretasi. Tapi sekarang, siapa yang bisa menjamin, bahwa interpretasi satu pihak benar secara universal, sementara interpretasi pihak lainnya salah secara universal? Apa yang membuat satu pemahaman benar sementara yang lainnya salah? Kasus tersebut mengingatkan saya akan disertasi A. G. Muhaimin (1995) yang menganggap bahwa penelitian C. Geertz (1961) tentang Islam di Jawa tidaklah netral karena berpihak pada Islam modern dengan melabeli Islam lainnya sebagai "abangan". Satu sudut pandang Muhaimin yang saya suka adalah penekanannya pada niat subyektif: budaya Islam adalah yang diinterpretasi dan diyakini oleh pelakunya sebagai sesuatu yang berdasar pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Konsekuensinya, sesuatu menjadi Islam atau menyimpang dari Islam jika individu yang menganutnya berpikir demikian.
Baik dan Buruk. Benar dan Salah. Saya mulai berpikir bahwa semua itu, sesungguhnya, hanyalah alat kekuasaan. Tentu ada baik dan buruk serta benar dan salah bagi saya, bagi Anda, dan bagi kita semua masing-masing. Namun ketika saya mengatakan sesuatu baik bagi orang lain, saya sesungguhnya tengah menjajah orang tersebut dengan pemikiran saya. Saya sesungguhnya tengah menjajah kebebasan seorang individu untuk memilih yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri. Benar dan salah lebih dahsyat lagi; perang kebenaran, sesungguhnya, adalah usaha saling menjajah di mana label "benar" berusaha membunuh label "salah". Padahal, apa yang benar bagi saya, mungkin salah bagi Anda!
Seketika itu juga saya bercermin. Hey Puteriku, adakah aku telah perneh menjajahmu dengan kata baik dan buruk, benar dan salah? Hanya kau yang tahu, apa yang terbaik dan apa yang benar untukmu. Tak seharusnya aku menjajahmu lagi. Ah, tolong ingatkan aku untuk itu. Aku akan tetap menyampaikan pandanganku padamu, tapi aku takkan berusaha lagi membuatmu mengadopsi kebaikan dan kebenaran versiku. Terkutuklah aku bila aku menjajah kemandirianmu.
Ah, Baik dan Buruk. Benar dan Salah. Betapa mengherankannya mereka.
Tapi siapkah manusia hidup tanpa mereka?
Selasa, 15 Januari 2008
Preface: Bercermin dan Berefleksi
Sebenarnya saya sudah lama tertarik untuk menulis blog, saya juga sudah beberapa kali membuat posting di blog friendster, tapi kemudian saya berhenti dengan alasan sibuk untuk hal lain. Saat ini terutama, skripsi. Namun baru sekarang saya berpikir bahwa menulis blog bukan hanya merupakan sebuah kesenangan; ia adalah sebuah kebutuhan.
Seorang sahabat bernama Windu pernah mengatakan pada saya bahwa pengetahuan sesungguhnya berasal dari dalam, bukan dari luar. Saya ingat saya pernah tertawa pada ucapannya itu. Betapa solipsistik! Kalau pengetahuan berasal dari dalam, manusia pastilah jadi autis karena asyik dengan pikirannya sendiri dan bukan pada dunia obyektif! Begitu pikir saya saat itu.
Namun sekarang, harus saya akui, bahwa ia separuh benar. Setidaknya bagi saya. Insight pertama saya datang ketika saya mendalami fenomenologi eksistensial untuk skripsi saya. Tesis utama fenomenologi bahwa kesadaran bersifat intensional memberikan pemahaman bahwa aktifitas kesadaran dan obyek kesadaran merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Artinya, apa pun yang berada di luar sana bukanlah apa-apa kecuali kita menyadarinya. Artinya, pengetahuan pun tidak mungkin obyektif; ia menjadi pengetahuan karena adanya aktifitas kesadaran kita, faktor internal kita.
Insight berikutnya lebih mendalam dan lebih berpusat pada pengalaman pribadi. Beberapa saat yang lalu, dalam keadaan emosional yang remuk-redam, saya mencari ilmu ikhlas. Saya menghubungi banyak orang yang mungkin mengetahui jawabannya. Ternyata jawabannya bukan saya dapatkan dari orang-orang itu, tapi dari obrolan ringan dengan seorang teman saya yang bernama Gege. Memang orang-orang itu bisa menjelaskan pada saya apa itu ikhlas, tapi obrolan ringan dengan Gege-lah yang membuat saya bisa ikhlas. Dan saya segera sadar mengapa. Orang-orang yang saya hubungi memberikan atau menyuntikkan konsep-konsep atau pemahaman mereka mengenai keikhlasan dan untuk itu mereka jadi pengkhotbah yang menyampaikan pengetahuan eksternal pada saya. Gege, di sisi lain, hanya jadi tempat curhat yang bereaksi secara jujur terhadap kata-kata saya. Namun justru inilah nilai lebihnya; ketika Gege menjadi orang jujur dan bukan orang "bijak", ia tidak menjadi penceramah melainkan menjadi cermin. Ia tidak memberikan saya pengetahuan eksternal, tapi ia membuat saya bercermin pada diri saya sendiri dan berpaling pada refleksi untuk pengetahuan internal. Secara tidak langsung ia menyadarkan saya bahwa yang penting bukanlah pengetahuan dari luar sana, tapi apa yang bisa saya lihat pada diri saya sendiri.
Lagipula, pengetahuan dan kemampuan memang berbeda. Orang yang tahu prinsip-prinsip mengemudi belum tentu bisa mengemudi. Mengetahui konsep-konsep keikhlasan tidaklah cukup untuk membuat kita mampu ikhlas.
The Knight's Black Box adalah nama dari jurnal lama saya, tempat saya menyimpan berbagai macam pemikiran atas hidup sehari-hari. Saya ingat betapa benda itu bisa menjadi media refleksi yang sangat mengagumkan. Awalnya saya berniat "menghidupkannya" kembali ketika saya mulai terpikir untuk membuatnya menjadi blog. Tentu blog punya nilai satu tambah yang membuatnya menjadi media refleksi yang lebih hebat dibandingkan jurnal lama saya; ia memungkinkan orang lain seperti Anda untuk memberikan komentar. Artinya, jika jurnal lama saya bisa menjadi media refleksi bagi saya, maka harapan saya blog ini bisa menjadi media refleksi bagi saya dan Anda--bagi kita semua.
Selamat membaca. Selamat berefleksi. Dan jangan lupa berikan komentar Anda--supaya kita bisa saling bercermin :)
Salam,
- Rizal
