Selasa, 30 Desember 2008

Persembahan untuk Anda


Bagi Anda yang masih suka menyisakan makanan dengan alasan apa pun, mungkin cerita ini bisa dihayati:


Anda tersesat di belantara. Perbekalan makan Anda habis sudah.
Setengah hari, Anda pikir Anda masih kuat.
Malam hari, Anda belum juga mulai menemukan jalan keluar. Dan perut Anda mulai berbunyi.
Syukurlah, Anda masih bisa menemukan air dan masih memiliki bahan bakar.
Anda pun bisa mengenali tumbuhan-tumbuhan hutan yang bisa dimakan.
Hari pertama, Anda bisa menemukan sejenis Umbi yang bisa Anda makan. Rasanya masam. Menyenangkan juga.
Jadi Anda menggali dan membawa beberapa sebagai perbekalan.
Namun, melewati hari pertama, Umbi-umbi tersebut mulai terasa sepat di lidah.
Anda segera kangen nasi.
Anda membuka peralatan masak Anda. Berharap ada sisa-sisa nasi di sana.
Oh, ya, ada beberapa butir yang sudah agak mengeras tertinggal di sana. Anda mengeroknya sekuat tenaga, lalu mengunyah butiran nasi yang keras itu.
Ya, Anda kangen sekali dengan nasi.
Dan Anda tidak kuat makan umbi terus-menerus.
Jadi, hari berikutnya, Anda tidak makan umbi lagi.
Yang ada di tanah pun, banyak yang belum matang.
Jadi, Anda harus bekerja lebih keras.
Anda tahu inti batang pohon pisang bisa dimakan. Jadi Anda mulai mengincar pohon pisang.
Dengan sekuat tenaga, Anda merubuhkan 2 batang pohon pisang yang besar. Sepanjang siang hingga matahari hampir terbenam, Anda merobohkan 2 batang pohon pisang dan membedahnya hingga Anda bisa mengeluarkan inti batang yang bisa dimasak.
Anda sangat kelelahan.
Namun kemudian Anda menyadari, 2 batang pisang hanya menghasilkan inti kurang dari satu mangkuk.
Itu pun rasanya sepat, tidak enak di lidah.
Anda menghabiskan semuanya dengan lahap, tidak peduli betapa tidak enak rasa yang ditinggalkannya pada lidah Anda.
Dan setelah menghabiskan semuanya, perut Anda masih berbunyi.
Bagaimana tidak, Anda hanya makan satu kali hari itu. Padahal Anda harus terus bergerak mencari jalan keluar.
Malam itu, Anda mengorek lagi ransel Anda, berharap ada sisa-sisa remah-remah makanan di sana.
Anda beruntung. Masih ada beberapa butir beras dan sedikit remah biskuit.
Anda makan dengan lahap, tapi tentu saja Anda tidak kenyang.
Anda tidur dengan perut keroncongan.
Hari ketiga, Anda sudah tidak mau lagi makan tumbuhan.
Lidah Anda terasa mati rasa. Anda ingin sesuatu yang gurih, protein hewani.
Anda mendatangi sumber air terdekat.
Ikan sepertinya ide yang bagus.
Anda pun mulai nencari ikan.
Namun, tak seekor ikan pun hidup di sana.
Tidak ada ikan di sana. Tidak ada katak. Tidak ada kadal, ular, apalagi burung, ayam, apalagi hewan berkaki empat yang layak dimakan.
Selama setengah hari Anda menunggu, siap membunuh.
Tapi tak satu binatang pun datang.
Akhirnya Anda bergerak.
Anda mulai merasa teramat lemas, karena harus terus bergerak. Anda harus mencari jalan keluar dari belantara.
Mulut Anda begitu tawar dan sepat, sementara perut Anda mulai terasa sakit.
Kemudian, tidak sengaja, Anda menghancurkan sebuah kayu lapuk di hutan. Tiga ekor ulat kayu jatuh ke tanah.
Anda mulai berkaca-kaca. Lalu menangis.
Demi Tuhan.
Anda menangis penuh syukur.
Siang itu, Anda masak tiga ekor ulat yang malang itu. Ulat yang menyerahkan nyawanya untuk memuaskan kelaparan Anda, meskipun tidak seberapa.
Biasanya, Anda akan muntah saat menemukan ulat itu dalam makan siang Anda.
Namun siang ini, Anda makan ulat-ulat itu dengan lahap. Dan Anda menangis.
Tuhan masih sangat berbaik hati pada Anda. Betapa ulat-ulat itu teramat lezat! Tiada duanya!
Namun apalah arti tiga ekor ulat; mereka hanya memuaskan lidah Anda. Tapi tidak perut Anda.
Jadi Anda mulai mencari gundukan tanah yang gembur.
Di sana, Anda mulai menggali.
Menggali, menggali, dan menggali.
Saat matahari mulai terbenam, Anda berhasil mengumpulkan beberapa ekor cacing tanah.
Anda menangis lagi, penuh syukur.
Malam itu Anda pesta pora. Anda merebus cacing-cacing itu.
Anda memakan cacing-cacing itu dengan lahap. Rasanya seperti tanah dengan sedikit rasa anyir.
Biasanya Anda ingin muntah saat lihat orang harus makan cacing di Fear Factor.
Tapi malam ini, bahkan dengan rasa tanah dan anyir,
Anda makan dengan lahap dan penuh syukur.
Tapi tentu saja, beberapa ekor cacing hanya sedikit memanjakan lidah Anda. Tidak perut Anda.
Anda semakin kelaparan.
Anda mengorek-ngorek ransel Anda. Berharap ada sebungkus coklat atau biskuit yang terselip entah di kantung mana.
Tapi tentu saja, tidak ada yang terselip;
bahkan remah-remahnya sudah Anda habiskan kemarin.
Anda terus mencari meskipun tahu itu semua sia-sia; dan persis, tidak ada apa pun yang Anda temukan.
Anda hanya menghabiskan tenaga untuk harapan kosong.
Dengan perut yang teramat kelaparan, Anda tidak bisa tidur.
Anda mulai mengingat-ingat makanan yang biasa Anda makan.
Bubur atau roti yang biasa Anda makan di pagi hari.
Makan siang nasi lengkap dengan lauk-pauk yang rasanya beraneka rupa.
Makan malam sederhana dengan gorengan.
Anda kangen itu semua, dan Anda mulai mengkhayal.
Anda mulai membuat rencana-rencana.
Saat kembali nanti, Anda akan mencoba ini dan itu.
Anda akan memesan makan siang dengan porsi tiga kali lipat biasanya.
Anda akan mendatangi supermarket dan belanja makanan sebanyak-banyaknya.
Tapi hey, semua itu hanya ilusi.
Anda masih di tengah belantara. Seorang diri, gelap dan dingin.
Dengan perut yang teramat kelaparan, Anda tidak bisa benar-benar tidur. Anda hanya berhalusinasi terus-menerus.
Hari keempat, Anda tidak bisa berjalan jauh-jauh.
Anda mulai sering limbung.
Dengan tenaga yang tersisa, Anda mencari di antara kayu lapuk dan gundukan tanah gembur.
Sambil terus mencari jalan keluar.
Tengah hari, Anda berhasil mengumpulkan beberapa ekor ulat kayu,
dan beberapa ekor cacing tanah.
Anda juga berhasil mendapatkan lagi 2 lagi umbi yang rasanya Anda anggap membosankan.
Anda harus makan, atau Anda tidak akan bisa keluar dari belantara.
Dengan tenaga yang sedikit, Anda hanya bisa mengambil makanan yang mudah.
Anda tidak sanggup lagi merubuhkan batang pisang.
Namun siang itu, Anda kehabisan bahan bakar.
Anda tidak bisa masak.
Anda tidak bisa menjadikan makanan Anda matang dan siap saji.
Jadi siang itu, di bawah rindangnya hutan, Anda hanya menatap peralatan masak Anda.
Di situ, potongan umbi menjadi satu dengan ulat dan cacing.
Mereka semua kotor, bertanah, dan menggeliat-geliat.
Sekali lagi, Anda mulai berkaca-kaca.
Anda mulai menangis.
Kali ini, bukan karena bersyukur. Kali ini, karena Anda kangen makanan.
Anda kangen sarapan Anda, Anda kangen makan siang Anda, Anda kangen makan malam Anda,
Anda kangen semua kudapan yang Anda makan.
Anda kangen remah-remah yang Anda buang,
makanan yang Anda sisakan. Nasi, sedikit sayur, dan sedikit bumbu yang Anda buang ke tong sampah dulu.
Ah, andai Anda bisa mengambilnya lagi sekarang.
Anda rela makan semua sampah itu.
Bahkan, Anda rela menukarkan semua yang Anda miliki sekarang, dengan sampah-sampah yang dulu Anda buang.
Demi Tuhan, Anda ingin sampah-sampah makanan itu kembali.
Tapi Tuhan tidak menurunkan hidangan dari langit.
Jadi dengan mata basah, Anda menatap makhluk-makhluk yang menggeliat-geliat dalam peralatan masak Anda.
Dan Anda mulai mengangkat makhluk-makhluk itu dengan tangan Anda...

...


Pesan tambahan: ambillah makanan secukupnya. Kalau Anda tidak kuat menghabiskan porsi yang dihidangkan pada Anda, berikan pada orang lain yang membutuhkan. Jangan buang makanan Anda--sebelum Anda menyesalinya.

Salam,



Rizal

3 komentar:

Astrid.. mengatakan...

waaaks, mustinya baca postingan ini pas lagi ga makan..klo pas lg makan..ehm, ehm,
mendadak ga pengen makan ni..
kg rizal tanggung jawaaab makanannya jadi ga abis!!hehe=D

caki mengatakan...

aduh dosa nih gw suka nolak kalo ditawarin makan daging ba** hehehehhe
Nice Post!!!!!

Sigit mengatakan...

Itu pengalaman pribadi elo jal? Woh, serius??